“Sewaktu saya SMA, saya sering nongkrong dìsalah satu tempat dì Tanjung Karang, teman-teman yang hobi road race melihat bakat saya dan mengajak berbagung ke IMI,” tuturnya.
Namun untuk menjadi seorang pembalap lanjut bupati tentu harus memilili SIM.

Hingga ia memutuskan untuk pulang ke Belitang meminta izin kepada ibunya untuk menjadi pembalap.
“Jadi salah satu cita-cita saya untuk menjadi pembalap, namun ibu saya tidak setuju,” lanjutnya.












