Dalam pemilihan kepala desa di Indonesia, sering kali kita dengar di media massa bahwasanya selama proses pemilihan kepala desa, calon kandidat melakukan segala upaya untuk memenangkan pemilihan tersebut, tak terkecuali melakukan kecurangan seperti membagikan uang melalui para pendukungnya. Dalam hal ini, masyarakat tidak memilih calon kepala desa berdasarkan kepribadian maupun visi dan misinya, melainkan karena suatu pemberian baik materi ataupun fasilitas. Fenomena tersebut merupakan hal yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, bagaimana jika masyarakat memilih seorang kepala desa karena merasa kasihan atau dalam bahasa Jawa, mesakne? Saya coba beragumentasi terhadap persoalan ini. Jika kepala desa dipilih semata-mata karena rasa kasihan, bisa berdampak negatif karena kemampuan dan kualifikasi kepemimpinan menjadi terabaikan. Ini bisa mengarah pada pengambilan keputusan yang tidak efektif dan penyelesaian masalah yang kurang optimal.
Pemilihan Kepala Desa sebagai Dinamika dalam Perkembangan Politik Lokal
sijaberita5 min baca












